Hammam

STAIN Salatiga Staff Blog

  • Regarding the lunar calendar in Indonesia, 25th October 2014 is noted as the new year of Islam (from 1435 H to 1436 H). As a natural process, there is nothing special dealing with changing of the year but it is very important for Muslims particularly viewed from cultural and contextual aspect. Culturally, the new calendar of Islam was connected with the process of Prophet Muhammad emigration (hijra) from Mecca to Media. This event is then celebrated by Moslems in different ways and interpreted its spirit in various perspectives. Like any other culture, there are many activities done to commemorate the hijra and its teaching values. For instance, Islamic students usually go to an orphanage to give donation and have meal together. Meanwhile mostly Muslims spent their time as a means of doing contemplation and reflection what they had done for one year previously.

    Contextually, hijra’s celebration of this year  has similar time that Indonesia will be governed by a new president, Mr. Joko Widodo. The writer thinks that the two events are very important to be related and discussed. The questions rise then whether the hijra has a positive impact toward Moslems in Indonesia and how the hijra’s spirit is actualized in the modern Indonesia where Islam’s adherent is the most population. Similarly there are many other religious adherents which are growing significantly. Besides, there are still many humanity and violence problems in foreign countries such as in South Asia, Middle East, and Europe. Hopefully by re-internalizing the value of hijra, Indonesian Moslems are able to improve the social and  political life for the humanity’s good (all people) not only in national level but also the international one.

    Hijra and Its Teaching

    The term hijra (emigrate) is very popular among Moslems all over the world including Indonesia. Particularly in Indonesia, this term was usually introduced by Islamic teachers to their students since they were in the fourth class of Islamic primary school. Hijra event is also known as the ‘epoch’ of the Islamic era when Muhammad and his followers emigrated from Mecca to Medina on Muharram month. That day was calculated in astronomical chronology to be on the 15th July 622 AD. The process of hijra ended on 21st September 622 indicated by the arrival of prophet Muhammad (PBUH) in Medina. In this crucial moment, the first Islamic community was set up in Medina. In other words, Islamic teaching is established both as a legal and political institution. In Medina, prophet  also gives a model how to live and interact harmoniously both Moslems and Muslims (exclusive way of life) and Moslems and non-Moslems (inclusive way of life).

    The main purpose of migration is to obey the God’s instruction and purely for the shake of God’s path obedience. This is as narrated by Ummar ibn al-Khattab, the prophet Muhammad says, ‘indeed, action only go by intentions. Everyone gets what they intend. Anyone, therefore, who emigrates to Allah and his messenger. But anyone who emigrates to gain something of this world or to marry a woman, his emigration is to that to which he emigrated,’ (Shahih al-Bukhari, Iman:41). Besides, it is to find better place to worship to God and to implement Islamic values in social life. This is also to prove that the emigration from Mecca to Medina is not caused by eviction of non-believers in Mecca. The story is explained in the Qur’an Al-Isra’ (17:76), Allah says, ‘and verily, they were about to frighten you so much as to drive you out from the land. But in that case, they would not have stayed (therein) after you, except for a little while’.

    Based on the above description, the main teaching of hijra is to obey the God’s commandments only and struggle to find better life for all human being. This leads Muslims to be aware that their life is not for the pride of communal, wealth, and powerful. Their life is dedicated to worship God only in wide dimension of life.

    Hijra as non-violence jihad

    The word hijra and jihad have close relation. It seems that when a Moslem is doing hijra, they must also do jihad at the same time. Hijra will not happen if there is no jihad. Let take look how close the word hijra and jihad is as as stated by the prophet Muhammad PBUH  that ‘there is no more hijra after the conquest (of Mecca), but there is jihad (striving in Allah’s cause and for humanity’s good) and intention. When you are called to it then go (Shahih al-Bukhari, Jihad: 1). The hadith informs that hijra as the process to emigrate from Mecca to Medina is a kind of jihad, to strive, exert for anything good including striving for peace or for welfare of humanity as a symbol of obedience to God. Another thing is that in modern life, hijra is not necessary any more for Moslems but they are requested to do jihad.

    According to Gullen (2004:171), there are two kinds of jihad, external struggle (lesser jihad) and internal struggle (greater jihad). Firstly, lesser jihad is the process to enabling someone else to attain his or her essence. This also means go to battlefront and dealing with human material aspects but lesser jihad as going to battlefront narrows its horizon considerably. Secondly, greater jihad is to attain one’s essence. If the lesser jihad involves human material front, the greater jihad is human spiritual one, a struggle with inner world and carnal soul (nafs). Finding one’s essence and helping someone else’s essence are called as a form of non-violence jihad (Nomani, 2011:119). It is due to the purpose of jihad is not only just to defend the communal of Muslims life and properties but, rather, to gain God’s acceptance, to protect His faith, to guide humanity, to promote its welfare, and to save it from oppression and strife. Therefore, the new year of Islam can be a momentum for Mr. Jokowi and other Moslems to work better than before in order to improve the life all people in Indonesia as manifestation of jihad both lesser and greater.

    No Comments
  • Pada tanggal 20 s.d 23 September 2014, para pelajar Indonesia di  23 negara di luar negeri yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) sedang mengadakan Simposium Internasional (SI) di Tokyo Institute of Technology, Tokyo, Jepang. Seperti biasanya, kegiatan ini bertujuan memilih ketua persidium yang baru dan mencari pemikiran-pemikiran solutif dengan berbagai perspektifnya atas persoalan kemanusiaan pada abad dua puluh satu baik di tingkat lokal maupun internasional. Namun yang membedakan SI kali ini dengan SI sebelumnya adalah hadirnya dua tokoh, M. Luthfi sebagai menteri Keuangan  dan Bill Gate sebagai salah satu innovator  dunia. Sedangkan tema yang diusungpun sangat relavan yaitu Kontribusi Pelajar Indonesia untuk Dunia (Contribution of Indonesian Young Generation to the World).

    Berbeda dengan organisasi lainnya, SI PPI Dunia bukan ajang untuk perebutan ketua tetapi sebagai media curah gagasan pelajar Indonesia  di luar negeri untuk dunia dan bangsanya. Para  peserta SI dituntut untuk memberikan paparan mengenai keunggulan dari negara tempat mereka belajar. Selain itu, forum ini juga akan menjadi sarana evaluasi atas program-program yang telah ditetapkan pada SI sebelumnya. Misalnya adalah sejauh mana efektifitas masukan dari SI PPI Dunia berdampak terhadap kemajuan bangsa Indonesia.

    Mencermati Hasil SI 2012 dan 2013

    Paling tidak, penulis telah dua kali mengikuti secara intensif perkembangan SI. Yang pertama, pada tanggal 20 s.d 22 Desember 2012, di Jawaharlal Nehru University New Delhi , tempat penulis belajar, telah dibuka secara resmi oleh menteri pendidikan Prof. Mohd. Nuh dan Preisden SBY, yang menghadiri India-Asean Commemoratif Summit di Hotel Taj Palace, New Delhi pada tanggal 20-21 Desember, berkesempatan mengadakan makan pagi bersama dengan perwakilan mahasiswa dari 23 negara. Dalam pertemuan tersebut,  Presiden SBY telah menyepakati tujuh hal penting yang telah disampaikan oleh mahasiswa. Poin-poin tersebut antara lain;  (1) mendukung dan mendorong percepatan pendirian Rumah Budaya Indonesia di negara perwakilan sebagai salah satu media diplomasi budaya Indonesia di luar negeri, (2) meminta respon cepat Kemenlu dan Kemendikbud atas perkembangan jumlah mahasiswa dan dinamikanya di negara tujuan studi namun belum memiliki Atase Pendidikan. Misalnya  di Turki sudah memiliki mahasiswa Indonesia sekitar 6000an, Korea Selatan ada mahasiswa Indonesia sekitar 5000an dan di Singapura terdapat sekitar 20.000an mahasiswa Indonesia, namun negara-negara tersebut belum memiliki atase Pendidikan saat itu, (3) menghentikan pengiriman TKI non-skill dan mendukung pendirikan TKI Learning Centre bagi negara yang sudah banyak terdapat TKInya, (4) berharap anggaran negara dapat diberdayakan semaksimal mungkin untuk produk dalam negeri, (5) mendorong adanya transfer teknologi terpadu yang melibatkan aspek pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan keamanan. Tujuannya agar transfer teknologi dapat menjadi pertumbuhan teknologi di dalam negeri, (6) menuntut peningkatan kesejahteraan pelaku LITBANG agar menumbuhkan minat kembali dan berkarya di Indonesia, (7) meminta transparansi pemerintah kepada publik atas kontrak-kontrak eksplorasi sumber daya alam Indonesia yang sudah terlanjur merugikan rakyat.

    Yang kedua,  SI dilaksanakan pada tanggal 28-30 November 2013 sebagai tuan rumah adalah PERMITHA di Thailand yang dihadiri oleh MENPORA, Roy Suryo. Para peserta menetapkan dukungan penuh atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Perbukuan sebagai hasil seminar internasional tentang Sistem Perbukuan pada tanggal 18 November, di Hyderabd. Naskah RUU Sistem Perbukuan diserahkan secara langsung kepada Menpora. Inti masukannya yaitu; (1) industri perbukuan harus terkendali oleh kebijakan pemerintah bukan diserahkan pasar, (2) membentuk bidang yang mengalih bahasakan buku-buku Indonesia ke bahasa asing, (3) masyarakat diharapkan berperan aktif mengawal harga, isi, dan sistem perbukuan nasional, (4) pemerintah menjamin harga buku murah dengan kualitas memadai bagi semua rakyat Indonesia terutama  buku-buku pendidikan dan buku pengetahuan praktis, ketersediaan bahan-bahan dasar untuk penerbitan buku seperti kertas, mesin percetakan, dan pemerataan distribusi. Yang terakhir yaitu menjamin hak membaca (reading right) bagi mereka yang berkebutuhan khusus (visually disable) serta mereka yang putus sekolah dalam persamaan hak memperoleh pendidikan.

     

    Komitmen Pemerintah dan DPR

    Menurut hemat penulis dari beberapa masukan PPI sebagaimana tersebut sudah ditindaklanjuti dan diimplementasikan oleh pemerintahan presiden SBY. Misalnya rekomendasi terhadap pendirian Rumah Budaya dan penugasan Atase Pendidikan di negara-negara yang mahasiswa Indonesia relatif besar jumlahnya. Masalah TKI dan learning center, Sekolah Indonesia di kawasan padat Tenaga Kerja Indonesia di Kinabalu, Malaysia juga telah didirikan. Bahkan yang paling baru, presiden SBY yang didampingi oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Mohd. Nuh, mengapresiasi lembaga baru Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, (lihat Republika online, 9 September 2014). Tentu langkah-langkah pemerintah tersebut sangat perlu diapresiasi secara positif oleh PPI dan masyarakat secara umum.

    Sebaliknya rekomendasi SI di Thailand 2013, tentang Sistem Perbukuan belum mendapat respon yang menggembirakan. Pemerintah dan DPR RI (Komisi X) belum sungguh-sungguh menanggapi isi rekomendasinya. Sebagai ilustrasi, pemerintah (Kementerian Agama) teledor terhadap konten buku ajar Sejarah Kebudayaan Islam yang menyinggung kelompok tertentu, (lihat Republika Online, 17 September 2014). IKAPI mengeluh tertahadap Kemendikbud karena mencetak Buku Kurikulum tahun 2013 kepada percetakan lain, (lihat Republika online, 12 September 2014) dan masih banyak persoalan lainnya. Kondisi ini diperparah lagi oleh rendahnya komitmen DPR RI Komisi X. Dua periode (2004-2014) gagal mengesahkan RUU yang akan mengatur sistem perbukuan di Indonesia. Padahal DPR RI Komisi X mengklaim RUU ini murni inisitaif mereka. Sementara itu, uang negara telah habis untuk studi banding ke luar negeri termasuk ke Inggris dan India.

    Oleh karena itu, SI PPI Dunia di Tokyo tahun ini hendaknya mengangkat Sistem Perbukuan lagi mengingat betapa pentingnya buku bagi kemajuan dan peradaban suatu bangsa. Isu strategis lainnya seperti krisis kemanusiaan di Palestina dan negara-negara Timur Tengah juga perlu mendapat porsi perhatian yang serius. Terkait kunjungan DPR RI atau pejabat publik ke luar negeri di masa yang akan datang,  PPI harus terlibat aktif berpartisipasi mengawal substansi materi dan sekaligus memantau perkembangannya setelah mereka kembali ke tanah air. Dengan begitu, PPI akan senantiasa eksis dan dirasakan kontribusinya terhadap kamajuan bangsa.

     

     

    No Comments
    1. Pengantar

    Bagi pemerhati sejarah dan gerakan nasional Indonesia akan selalu mempertanyakan kembali peran pemuda dari waktu ke waktu terutama menjelang peringatan hari Sumpah Pemuda, setiap tanggal 28 Oktober. Apakah eksistensi pemuda masih layak untuk diperbincangkan dan diperhitungkan dalam membangun kemajuan Indonesia? Seberapa efektifkah perjuangan pergerakan para pemuda sebelumnya dan bagaimana keberlangsungan perjuangan itu? Pertanyaan reflektif ini layak untuk dikaji kembali secara berkesinambungan agar pemuda tidak absen dan abai dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih oleh para pendahulunya dan sekaligus mengkritisinya.

    Meskpiun telah diketahui bersama bahwa  sejarah kemerdekaan Republik Indonesia telah menjadi bukti keterlibatan aktif pemuda dan rakyat Indonesia. Para pemuda selalu hadir dalam setiap fase perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan pada saat pra kemerdekaan kebangkitan nasional, dan sumpah pemuda. Pada masa kemerdekaan, setiap pergantian rezim (orde atau era) di Indonesia, mereka terlibat didalamnya dengan segala daya kritis dan semangat nasionalisme yang tinggi demi kepentingan bangsanya. Mereka secara aktif dan terus menerus melintasi zaman menghiasi dunia pergerakan di Indonesia.

     

    Kalau dicermati secara sungguh-sungguh ada faktor yang sangat signifikan yang membuat perjuangan mereka berhasil, yaitu hadirnya agenda perjuangan di setiap aksi mereka. Secara singkat dapat diilustrasikan sebagai berikut. Pertama, agenda perjuangan pemuda periode awal adalah kebangkitan nasional, menghimpun para inteletual untuk membangkitkaan para pemuda Indonesia dalam bentuk organisasi kepemudaan Budi Oetomo. Kedua, agenda gerakan selanjutnya adalah persatuan, bagaimana menghimpun gerakan pemuda yang berbasis kesukuan menjadi gerakan nasional dan lahirlah Sumpah Pemuda. Ketiga, fase berikutnya agenda yang diusung adalah mengusir penjajah dan kemerdekaan. Namun, pasca kemerdekaan, agenda perjuangan pemuda agak berbeda dengan sebelumnya menjadi sangat politis dan situasional. Artinya gerakan pemuda tidak lagi bersifat massive tetapi lokalitas dan berbasis isu temporer. Kecuali gerakan reformasi menemukan momentumnya kembali untuk bersatu melawan regim otoriter Soeharto dengan agenda gerakan yang jelas memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

     

    Tulisan ini menawarkan alternatif agenda gerakan pemuda yang sesuai dan perlu diangkat lagi sebagai commmon interest pasca reformasi dan memasuki milenium II abad 21 (globalisasi), bagaimana format gerakannya dan target-target apa yang dicapai dalam gerakan tersebut. Dengan tulisan ini, para pemuda (mahasiswa) diharapkan mampu memperjuangkan dan melaksanakan kembali semangat konstitusi untuk menciptakan masyarkat yang damai dan mengawal  kerukunan antar golongan, suku, dan kelompok kepentingan lainnya di Indonesia secara berkeadilan sosial.

    1. Memetakan Kekerasan di Indonesia

    Menurut Shekhar (2011: 31&110), bahwa secara garis besar kekerasan di Indonesia dapat diklafikasikan menjadi tiga jenis; kekerasan politik, kekerasan struktur (pemerintah terhadap rakyatnya) dan kekerasan horisontal (antar golongan masyarakat). Pertama, kekerasan politik (political violence)  adalah kekerasan yang diakibatkan oleh pertarungan ideologi negara yang dilakukan oleh perorangan dan atau suatu kelompok. Misalnya, perseteruan antara Moh. Natsir dan Soekarno dalam menentukan ideologi negara Indonesia menjadi salah satu bukti adanya kekerasan politik ideologi negara. Moh. Natsir mengatakan bahwa we struggle for independence because of Allah, for well being of all the inhabitans of the Indonesian archipelago. Dengan kata lain Moh. Natsir ingin mendirikan negara yang menggunakan basis ideologi Islam (negara Islam). Gagasan ini ditentang oleh Soekarno, Hatta, dan Sjahrir karena gagasan ini sangat rentan terhadap disintegrasi bangsa terutama pulau-pulau di kawasan timur Indonesia yang mayoritas berpenduduk non Muslim. Soekarno menanggapi ide Moh.Natsir dengan mengatakan,

     

    “If we established a state based on Islam, many areas where the majority of the population is not Muslim, such as the Molucas, Bali, Flores, Timor, and Sulawesi Island would secede. Indoensia could not have an Islamic basis since both muslims and Christians equally wanted independence,”

     

    Kedua, adalah kekerasan struktur (the state and ethnics group violence). Kekerasan ini dilakukan oleh negara melalui alat negara seperti tentara, polisi, dan polisi pamong praja terhadap rakyatnya sendiri yang dianggap membahayakan negara atau kepentingan pemodal/perusahaan asing yang berada di Indonesia. Beberapa contoh kekerasan dalam kategori ini antara lain; Gerakan 30 September, Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, Kasus Tanjung Priok, Penanggulangan Bahaya Terorisme, dan Kerusuhan di Timika.

     

    Ketiga, kekerasan horisontal (ethno-communal violence) merupakan kekerasan yang dilakukan oleh dan antar anggota masyarakat yang dipicu oleh persoalan/isu suku, agama dan ras termasuk di dalamnya adalah isu relasi mayoritas dan minoritas. Beberapa konflik yang terjadi di daerah-daerah misalnya; Poso, Kasus Ahmadiyah di Sampang Madura, sweeping tempat-tempat hiburan yang dilakukan oleh anggota FPI setiap bulan Ramadhan dan masih banyak lainnya.

     

    Jika tidak diantisipasi secara serius, potensi kekerasan tersebut akan terus berlangsung seiring dengan perjalanan bangsa Indonesia yang sedang mencari bentuk negara yang ideal mengingat banyaknya sumber daya alam di daerah yang dikelola oleh pusat dan pemodal asing. Bentuk negara yang terdiri dari kepulauan tentu sangat membutuhkan kebijakan pembangunan infrastruktur yang memadai. Banyak peristiwa telah membuktikan jika kesejahteraan masyarakat di daerah dan pulau terpencil tidak diperhatikan oleh pemerintah pusat, mereka mengancam akan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kondisi ini akan  rentan terhadap potensi konflik dan kekerasan di masa yang akan datang.

     

    Selain itu, potensi kekerasan yang berbasis ideologi negara juga menarik untuk dicermati. Pasca reformasi, sejarah seakan berputar kembali ke belakang mengingatkan kembalinya perseteruan ideologi negara apakah ideologi Islam atau Pancaila. Selama hampir 30 tahun wacana ideologi negara ini tidak masuk ke ruang publik namun setelah adanya reformasi kekerasan genesis itu muncul kembali. Beberapa partai Islam menginginkan diberlakukannya syariat Islam dan ormas Islam menghendaki untuk mendirikan khilafah Islam. Ideologi transnasional pasca reformasi juga masuk ke wilayah Indonesia, misalnya terorisme yang melibatkan beberapa kalangan anak muda Indonesia.

     

    Pemetaan kekerasan ini masih sangat sederhana dan masih banyak problematika bangsa lainnya tetapi pemetaan ini dapat digunakan sebagai salah satu basis kajian atau titik awal gerakan pemuda di Indonesia pasca reformasi. Kajian ini sangat penting mengingat pentingnya target dan agenda gerakan dalam setiap periode atau zamannya agar gerakan pemuda Indonesia tidak reaktif, lokalitas, situasional, dan miskin abstraksi (konsep).

     

    1. Pemuda dan Agenda Anti Kekerasan

    Dengan memperhatikan keadaan diatas, maka gerakan pemuda pasca reformasi idealnya berbasis kajian dan penelitian yang mendalam terkait isu atau agenda gerakannya. Bukan lagi isu-isu kekuasaan belaka tetapi  juga persoalan horisontal terkait masalah IPTEK, sosial budaya, dan kemanusiaan. Gerakan pemuda yang berbasis konstitusi, dialog, persuasi, dan anti kekerasan. Sebagaimana dipaparkan oleh Mahatma Gandhi salah satu ciri dari gerakan menuju masyarakat anti kekerasan adalah pengelolaan ekonomi melalui negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat (trusteeship), sistem perkonomian yang mengutamakan kepentingan rakyat sebagai pemilik atas kekayaan negara, bukan sistem perekonomian yang mengutamakan sekelompok orang para pemilik modal (Bhikhu Parekh, 1997:94-98).

    Menilik kerusuhan dan kekerasan pada bulan Mei tahun 1998 salah satu pemicunya adalah krisis moneter. Krisis ini disebabkan oleh sistem perekonomian Indonesia yang menganut sisitem kolonial. Menurut Revrisond, ada tiga ciri perokonomian kolonial, pertama, diposisikannya perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah bagi negara-negara industri maju. Kedua, dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai pasar produk negara-negara industri maju. Ketiga, dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai tempat untuk memutar kelebihan kapital yang terdapat dinegara-negara industri maju.

    Hal ini sangat bertolak belakang dengan amanat rakyat dan cita-cita besar para pendiri bangsa. Bung Karno menghendaki bahwa perkonomian Indonesia harus menggunakan sistem perekonomian nasional. Sebagaimana terungkap dalam Pasal 33 UUD 1945, maka perekonomian Indonesia (harus) disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak (harus) dikuasai oleh negara. Bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya (harus) dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat  (Revrisond Baswir, 2012).

    Hampir setiap negara yang secara ekonomi maju, mampu mengelola aksi-aksi rakyatnya dengan seminimal mungkin menggunakan kekerasan. Mereka diberikan ruang dan media untuk menyampaikan aspiranya. Sebaliknya, rakyatnya juga tidak anarkis ketika menyampaikan aspirasinya, seperti merusak fasilitas umum yang dibiayai oleh pajak yang diambil dari uang rakyat. Pola relasi kemitraan yang kritis dari rakyat terhadap negaranya akan mampu menciptakan masyarakat yang sehat (demokratis), damai, sejahtera, dan berkeadilan. Bukan sebaliknya, sebuah hubungan antara rakyat dan negara yang saling mencurigai, intimidasi, penuh eksploitasi, dan tanpa adanya kepercayaan.

     

    1. Kesimpulan

    Pengetahuan mengenai sejarah gerakan pemuda dan kondisi politik keonomi mutakhir di Indonesia merupakan modal yang utama sebagai pijakan bagi gerakan kepemudaan di masa yang akan datang. Gerakan pemuda yang penuh dengan kekerasan dan konflik di masa lalu, sebaiknya mulai digeser menuju gerakan pemuda yang inovatif berbasis penelitian (menggunakan IPTEK) dan mengurangi tindak kekerasan. Membangun solidaritas dengan menggunakan jejaring sosial telah menjadi bukti efektif melawan sebuah tirani, baik itu tirani mayoritas maupun minoritas. Sementara itu, kajian terhadap isu-isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak dapat dijadikan agenda utama gerakan pemuda sepanjang jaman meskipun dengan substansi persoalan yang berbeda. Dengan demikian pemuda akan selalu hadir menjadi pengawal setiap perubahan dan melahirkan tokoh pergerakan baru dalam setiap jamannya.

    [1] Hammam, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di India dan mahasiswa program doktoral, jurusan Linguistik di Center for Linguistics, School of Languages, Literature, and Culture Studies (SLL&CS), Jawaharlal Nehru University (JNU), New Delhi

    No Comments
  • Welcome to STAIN Staff Website. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

    1 Comment